Senin, 18 April 2011

LKS Sejarah Bab III part 1

Diposting oleh Sinta Ayu di 23.15

PI (Perhimpunan Indonesia) dianggap radikal karena gerakan politik ini telah membuat keresahan di pihak pemerintah kolonial.Sehingga, pemerintah Belandapun menangkap tokoh-tokph PI.Belanda telah mencap P.I sebagai gerakan perpanjangan PKI karena pertemuan antara Hatta dan Semaun. Selain itu penangkapan ini juga membuat runtuhnya gerakan P.I di dunia Internasional. Setelah para tokoh P.I diadili dan dinyatakan bebas pada 22 Maret 1928 gerakan P.I pun sudah tidak dilakukan lagi di Belanda. Gerakan P.I mulai berpindah ke Indonesia, hal ini karena banyak mahasiswa anggota P.I pulang ke Indonesia.





Kegiatan Siswa 3.1 halaman 29
1.Nasionalisme : Paham yang menempatkan kesetiaan secara tinggi bagi tiap individu kepada bangsa dan negaranya.
2.Liberalisme : Paham yang menghendaki kebebasan dalam bidang ekonomi, agama, budaya, 3.sosial, dan pemngembangan iptek serta jaminan bagi warga negara atas kebebasan politik.
4.Hakko Ichiu : Suatu ajaran yang memerintahkan agar dunia dibentuk menjadi keluarga besar dipimpin bangsa Jepang
5.Swadesi : Membeli produk-produk asli India dan tidak membeli produk Inggris
6.Restorasi Meiji : Usaha pembaharuan Jepang dengan meniru gaya barat.
7.Hak Ekstrateritorial : hak kebebasan diplomat terhadap daerah perwakilannya termasuk halaman bangunan serta perlengkapannya seperti bendera, lambang negara, surat surat dan dokumen bebas sensor, dalam hal ini polisi dan aparat keamanan tidak boleh masuk tanpa ada ijin pihak perwakilan yang bersangkutan.
8.Kaum Spoy : Tentara Inggris yang berasala dari India.


Uji Kompetensi 3.1 halaman 30-31
I.1. b. Ernest Renan
2. c. Kebebasan
3. a. Pengakuan terhadap HAM
4. e. Montesquieu
5. a. Usaha untuk memperbaiki Jepang dengan meniru gaya Barat
6. b. Santini Ketan
7. b. Menyelamatkan Turki dari kehancuran
8. a. Melawan imperialisme di dunia.
9. a. berkembangnya paham imperialisme dan kolonialisme modern
10. b. Tampilnya Napoleon Bona parte sebagai kaisar seumur hidup oleh rakyatnya.

II.1. Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1904-1905, munculnya paham-paham baru, pengaruh ucapan Wosroow Wilson bahwa tiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri.
2. Paham yang menghendaki adanya kebebasan. Latar belakangnya : Adanya merkantisme (kegiatan mengatur ekonomi).
3.
bebas dari batasan” (free from restrain)
4. Adanya kaum intelektual, penderitaan rakyat akibat imperialisme Inggris, diskriminasi pemerintah, kemenagan Jepang atas Rusia, pertentangan kebudayaan (India-Inggris)
5. UUD sesuai konstitusi Barat, huruf Arab diganti huruf latin, pernikahan sipil dihapus dan poligami dilarang, sekulerisme dan etatisme.

Read More......

M. Husni Thamrin

Diposting oleh Sinta Ayu di 22.47


Muhammad Husni Thamrin dilahirkan pada hari jum’at tanggal 16 Pebruari 1894 di kampung Sawah Besar, Batavia. Ayahnya bernama H. Tabri Thamrin, seorang pegawai pamong praja yang berpangkat Wedana, sedangkan ibunya bernama H. Nurhana. Ayahnya Muhammad Husni Thamrin, yaitu H. Tabri Thamrin adalah anak angkat dari pamannya sendiri yang bernama Muhammad Tabri, seorang pegawai pamong praja dari Kewedanaan Kepulauan Seribu. Tabri Thamrin diambil sebagai anak angkat oleh pamannya sewaktu berusia 10 tahun setelah ayahnya meninggal. Ayahnya bernama Ort seorang pedagang dan pemilik Hotel Ort de Rijwik, Batavia. Semasa hidupnya Ort terkenal sebagai anggota dari tiga sekawan Ort-Schnell-Palmer. Schnell adalah Residen Batavia, sedangkan Palmer Ommelanden, semuanya berkebangsaan Inggris.
Setelah meninggalkan bangku sekolah, Muhammad Husni Thamrin terjun ke dalam lingkungan masyarakatnya. Keinginan ayahnya (Thabri Thamrin) untuk memasukkan anaknya menjadi seorang ambtenaar tetap dipegangnya. Kemudian Muhammad Husni Thamrin dimasukkan ayahnya menjadi magang (calon pegawai) di kantor Kepatihan Batavia. Di situ ia memperlihatkan kerajinan dalam bekerja. Sedikit-sedikit, Muhammad Husni Thamrin berhasil meraih sukses. Ia telah menunjukkan pengabdian yang besar terhadap tugasnya. Akan tetapi ia tidak merasa senang. Hal ini disebabkan cita-cita Muhammad Husni Thamrin bukanlah untuk menjadi ambtenaar sebagaimana yang ditempuh oleh ayahnya. Cita-citanya adalah memperjuangkan nasib rakyat dan mengabdi untuk kepentingan rakyat.

Setelah sekian lama bekerja di Kepatihan Batavia, akhirnya Muhammad Husni Thamrin mengajukan permohonan untuk berhenti.ia kemudian pindah bekerja ke perusahaan pelayaran Belanda Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM). Di situ ia diserahi pekerjaan sebagai boekhouder (pemegang buku). Selama bekerja di situ Muhammad Husni Thamrin terus mengembangkan dirinya dengan cara belajar secara pribadi dan juga selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Satu hal yang mempengaruhi pemikirannya setelah bekerja di KPM adalah saat ia berkenalan dengan Van Der Zee. Ia merupakan seorang sosialis yang cukup terkenal dalam gelanggang politik di Batavia yang juga merupakan anggota Gemeenteraad Batavia.Antara Muhammad Husni Thamrin dan Van Der Zee terjalin hubungan yang dekat. Masing-masing memiliki minat yang sama terhadap masalah kemasyarakatan.

Seiring dengang berjalannya waktu, pergaulan Muhammad Husni Thamrin dengan Van Der Zee semakin menambah wawasan pemikirannya. Pengetahuannya semakin bertambah, terutama dalam bidang sosial dan politik. Di pihak lain Van Der Zee juga memerlukan pemikiran Muhammad Husni Thamrin berkenaan dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat Betawi. Ketika itu Muhammad Husni Thamrin memang telah menunjukkan minatnya terhadap usaha-usaha perbaikan kehidupan masyarakat Betawi. Ia memperlihatkan keadaan yang menimpa masyarakat sekelilingnya berupa keadaan kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Di antara sekian banyak minat usahanya dalam bidang perbaikan kehidupan masyarakat Betawi, yang paling menarik minatnya adalah usaha penanggulangan akibat banjir yang selalu melanda Betawi karena meluapnya sungai Ciliwung. Ia mengatakan uneg-unegnya itu kepada Van Der Zee. Van Der Zee yang duduk sebagai anggota Gemeenteraad, membawa pemikiran sekaligus uneg-uneg Muhammad Husni Thamrin ke dalam sidang Gemeenteraad. Ternyata usahanya itu membuahkan hasil. Gubernur Jendral setuju untuk mengusahakan agar supaya air sungai Ciliwung tidak mendatangkan suatu bencana bagi masyarakat sekitar. Dalam perealisasiannya, Muhammad Husni Thamrin diajak oleh Van Der Zee untuk melihat langsung apa yang telah dicita-citakannya itu.

Kedekatannya dengan Van Der Zee telah menambah pengetahuan sosial dan politiknya. Suatu saat Muhammad Husni Thamrin mendapat kesempatan duduk dalam Gemeenteraad di Batavia. Karir politiknya semakin mantap tatkala ia berhasil duduk dalam Volksraad. Pada era tahun 1930-an ia terjun ke dalam parpol. Ia pernah menjabat sebagai ketua Parindra tahun 1938 dan mengusulkan pembentukan GAPI sebagai sarana perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

Read More......

Penggagas Kongres Pemuda Pertama

Diposting oleh Sinta Ayu di 22.40

Lima organisasi pemuda menggagas Kongres Pemuda Pertama 1926. Dengan alasan lebih jauh, Tabrani, ketua kongres, menolak keinginan peserta yang akan menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

DIALAH tokoh penting di balik terselenggaranya Kongres Sumpah Pemuda Pertama 1926. Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, wafat pada 1984, tak hanya menggagas munculnya kongres itu, tapi ia juga kemudian menjadi ketuanya.

Saat masih hidup, banyak yang memintanya menuliskan pengalaman dan apa yang diketahuinya perihal kongres, yang kemudian mengantar terjadinya Kongres Pemuda 1928 yang momumental tersebut. Tapi Tabrani selalu menolak.

Sikapnya baru mencair ketika pada 1973, Sudiro, bekas Wali Kota Jakarta, memintanya. Maka Tabrani pun menuliskan pengalamannya dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda. Buku ini diterbitkan pada 1974 oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta. ”Bukan saya angkuh, apalagi takut, melainkan khawatir nanti-nanti berbuat salah,” katanya menjelaskan. ”Sebab, saya tidak memiliki dokumen asli yang lengkap seputar Kongres Pemuda Indonesia Pertama tersebut,” katanya.

Menurut Tabrani, laporan kongres yang berjudul Verslag van Het Eerste Indonesisch Jeugdcongress (Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama) yang diterbitkan oleh Panitia Kongres telah dimusnahkan Belanda. Ia mengetahui kabar itu ketika tengah bersiap meninggalkan Tanah Air untuk berangkat ke Jerman. ”Jadi tidak sempat mengurusnya.” Tapi, untunglah, sebelumnya ia telah mengirimkan salinan laporan itu ke Museum Pusat dan sejumlah media massa. Pada 1973 Tabrani menemukan dokumen kongres itu di Museum Pusat—kini bernama Museum Nasional. ”Kondisinya sudah memprihatinkan,” ujarnya.

Menurut Tabrani, untuk ”mengelabui” pemerintah Belanda, saat itu ia melakukan sejumlah trik kala kongres. Beberapa orang sengaja ia perintahkan mengobrol dengan kepala polisi rahasia dan sejumlah pejabat Belanda yang hadir. Tujuannya, agar mereka tak sempat menyimak pidato peserta kongres.

Persiapan Kongres Pemuda Pertama dilakukan pada 15 November 1925 di gedung Lux Orientis, Jakarta. Hadir lima organisasi pemuda dan beberapa peserta perorangan. Organisasi itu Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen. Tabrani mewakili Jong Java.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan membentuk panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tujuan kongres tersebut, ”Menggugah semangat kerja sama di antara bermacam-macam organisasi pemuda di tanah air kita, supaya dapat diwujudkan dasar pokok lahirnya persatuan Indonesia, di tengah-tengah bangsa di dunia.” Panitia kongres terdiri atas 10 orang, di antaranya Bahder Djohan, Sumarto, Jan Toule Soulehuwij, Paul Pinontoan, dan Tabrani. Dari sini lantas dibentuk ”panitia inti”. Ketua Tabrani, wakil ketua Sumarto, sekretaris Djamaludin (Adinegoro), dan bendahara Suwarso.

Kongres Pemuda Pertama itu kemudian digelar di Jakarta pada 30 April 1926 hingga 2 Mei 1926. Berbagai persoalan dibahas dalam kongres ini. Bahder Djohan, misalnya, menyampaikan materi ”kedudukan wanita dalam masyarakat Indonesia”. Tapi, lantaran terlambat datang dari Bandung, ”pidato” Bahder akhirnya dibacakan Djamaludin. Adapun Paul Pinontoan membahas peranan agama dalam gerakan nasional.

Dalam kongres yang memakai bahasa Belanda itu dibicarakan pula soal bahasa persatuan. Muhammad Yamin, yang membahas ”masa depan bahasa-bahasa Indonesia dan kesusastraannya”, menyatakan hanya dua bahasa, Jawa dan Melayu, yang berpeluang menjadi bahasa persatuan. Namun Yamin yakin bahasa Melayu yang akan lebih berkembang sebagai bahasa persatuan. Djamaludin sependapat dengan Yamin.

Menurut Tabrani, peserta kongres saat itu sepakat menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Namun Tabrani menentang. ”Bukan saya tidak menyetujui pidato Yamin. Jalan pikiran saya ialah tujuan bersama, yaitu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” ujar Tabrani, seperti yang ia tulis dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda.

Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, ”Maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu.” Pendapat ini diterima Yamin dan Djamaludin. Keputusan menetapkan bahasa persatuan itu pun ditunda dan akan dikemukakan lagi dalam Kongres Pemuda Kedua. Sayangnya, ketika kongres kedua berlangsung, Tabrani dan Djamaludin sedang berada di luar negeri.

Tabrani juga disebut-sebut berperan mengubah rumusan Sumpah Pemuda. Sewaktu disepakati, sumpah itu, terutama butir ketiga, berbunyi: ”menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Rumusan populer sekarang: ”mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia”.

Menurut Keith Foulcher dalam Sumpah Pemuda, Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia (Komunitas Bambu, cetakan II, 2008), pergeseran itu tidak terjadi begitu saja.

Foulcher merujuk pada Kongres Bahasa 1938. Ketika itu, kata Foulcher, Tabrani menyampaikan topik ”Mendorong Penyebarluasan Bahasa Indonesia”. Saat itu ia memberikan argumen bahwa bahasa Indonesia tidak beroposisi terhadap bahasa daerah, tapi merepresentasikan ”Sumpah Kita”. Ia kemudian menyampaikan satu rumusan baru:

Kita bertoempah tanah (sic) satu, jaitoe tanah (sic) Indonesia,
Kita berbangsa satoe, jaitoe bangsa Indonesia,
Kita berbahasa satoe, jaitoe bahasa Indonesia<

Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, 10 Oktober 1904. Setelah menamatkan pendidikan di MULO Surabaya, dia masuk AMS di Bandung dan kemudian OSVIA, juga di Bandung. Sejak di MULO ia aktif di Jong Java.

Meski menuntut ilmu di sekolah calon pamong praja, Tabrani lebih berminat pada jurnalistik. Pada 1926 ia sudah memimpin harian Hindia Baroe bersama Haji Agus Salim. Selepas Kongres Pemuda Pertama, ia berkeliling Eropa, hingga 1931, mencari pengalaman jurnalistik. Ia, antara lain, mengunjungi London, Berlin, Koln, dan Wina. Sembari membantu koran-koran Belanda, seperti Het Volk dan De Teleraaf. Setelah pulang ke Tanah Air, ia mendirikan Partai Rakyat Indonesia dan menerbitkan majalah Revue Politiek. Beberapa tahun kemudian, ia memimpin harian Pemandangan.

Dalam Kongres Persatoean Djoernalis Indonesia Kelima di Solo 1939, Tabrani terpilih sebagai ketua. Di zaman Jepang, ia memimpin koran Tjahaja di Bandung. Pada zaman Jepang ini pula ia pernah dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Ia disiksa hingga kakinya cacat, pincang.

Lepas dari penjara, Tabrani memimpin Indonesia Merdeka yang diterbitkan Jawa Hokokai. Saat Indonesia merdeka, ia sempat mengelola koran Suluh Indonesia, milik Partai Nasional Indonesia.

Read More......
 

Chin's Blog Cantique Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea